Thursday, September 30, 2021

Analysis Short Story " A Jury of Her Peers by Susan Glaspell"-Lisnawati

 

Analisys of A Jury of Her Peers

 Oleh : Lisnawati 

·         

 A jury of Her Peers merupakan sebuah cerita pendek terbitan Amerika Serikat yang dikarang oleh Susan Glasspell. Isinya menceritakan tentang penyelidikan pembunuhan misterius di Desa Dickson County. Cerita pendek ini diadaptasi dari drama babak satu yang berjudul “Trifles” (1916).

Cerita ini berawal dari 5 orang dewasa yang pergi ke rumah kediaman Mr. Wright. Ke 5 orang tersebut yaitu Mrs. Martha Hale, Sheriff Peters, Mrs. Sheriff, George Henderson, dan Lewis Hale. Mereka ditugaskan untuk membantu menyelidiki kasus pembunuhan yang bernama Jhon Wright.

Selama perjalanan Mrs. Martha tidak menyangka akan bertemu lagi dengan Mrs. Sheriff. Penampilannya sangat berbeda, tidak seperti pertama kali bertemu pada satu tahun yang lalu.

Setelah tiba di rumah Mr. Wright, ke lima orang tadi pergi ke kompor, kecuali dua wanita, Mrs. Martha dan Mrs. Sheriff. Mereka memilih  berdiri di samping pintu dengan alibi tidak merasa kedinginan .

Sejumlah aksi penyelidikan kasus pembunuhan Mr. Wright mulai diselancarkan. Namun, sebelumnya Mr. Sheriff mengintruksikan kepada orang-orang yang ada di dalam untuk tidak terlebih dahulu memindahkan barang-barang. Ia meminta Mr. Hale untuk memberitahu kepada Mr. Young Henderson tentang sesuatu yang dilihatnya kemarin pagi di rumah Mr. Wright.

“ Harry dan saya sudah mulai ke kota dengan banyak kentang,” Mr. Hale mulai membuka suara.

Kemarin pagi, ketika Tuan Hale dan puteranya, Harry, sedang membawa muatan kentang ke daerah kota. Ketika di tengah jalan mereka melewati rumah keluarga Mr. Wright, Mr. Hale mampir lalu bertanya kepada Mr. Jhon, apakah dia akan mendapatkan telpon. Mr. Hale mengoceh sedikit dan mengatakan bahwa Jhon Wright sedikit berbicara. Ia tidak menyukainya.

Mr. Hale melaporkan bahwa Minnie Wright, istri Mr. Wright berkata bahwa dia tidak dapat berbicara dengan Jhon karena dia terungkap sudah mati, terbaring di lantai atas, tercekik oleh tali.

Saat para pria  turun ke bawah,  Harry bertanya kepada Mrs. Wright siapa yang telah  melakukan perbuatan keji tersebut. Tetapi, Mrs. Wright mengatakan tidak tahu karena dia sedang tidur dengan nyenyak.

Pengacara daerah terus menyusuri ruangan. Mulai dari lantai atas, gudang, dapur. Namun, tidak ada sesuatu yang penting di sana yang dapat ditemukan.

Yang mereka lihat hanyalah toples buah pecah yang terkena embun beku, kemudian peralatan makanan yang tidak dicuci, dan dapur yang sangat kotor. Para pengacara mencemooh sikap yang dilakukan oleh Mrs. Wright. Ia masih menyempatkan diri untuk menyelamatkan toples gulanya di tengah penyelidikan kasus pembunuhan.

Mrs. Hale dan Mrs. Petters menemukan selimut yang jahitannya tidak beraturan. Seperti ada bagian yang bengkok. Lalu, mereka juga menemukan gaun Minnie yang lusuh dan kotor. Mereka teringat Minnie yang dulu senang sekali melihat konser, dan mereka berpikir bahwa gaun itu akan dipakai oleh Minnie untuk menonton konser, namun Minnie tidak memiliki baju yang bagus untuk dipakai.

Kedua wanita itu juga menemukan sebuah kotak yang ditutup dengan kain sutera. Ketika dibuka, ternyata isinya adalah burung kenari yang sudah mati. Dengan keadaan kepalanya seperti telah dicekik atau diremas. Tidak lain tidak bukan burung itu ialah milik Minnie, istri dari Mr. Wright

Diketahui Minnie menyukai burung kenari. Burung Kenari terkenal dengan burung yang pandai bernyanyi. Seperti Minnie, ia juga senang bernyanyi. Dahulu sebelum ia menikah dengan Mr. Wright, ia sering tampil di acara-acara music. Banyak yang mengagumi suara indah yang dimilikinya. Oleh sebab itu, dahulu Ia dikenal sebagai Minnie Foster. Wanita periang, cantik,dan bisa terbang bebas tak terbatas.

 “Dia- kalau dipikir-pikir, dia sendiri seperti burung. Benar-benar manis dan cantik, tapi agak pemalu dan gugup.”

 Garis-garis ini menggambarkan Minnie sebagai burung yang mencintai kebebasan yang suka menapaki jalannya sendiri, tanpa terpikat. Dia menikah dengan John Wright. Mereka tidak memiliki anak. Untuk mengisi kekosongan, Minnie telah membeli burung kenari ini dari penjual burung sebagai upaya untuk tetap ditemani pilihannya.

 Perbuatan ini sarat dengan niat ganda. Satu, di mana dia akan memiliki perusahaan, dan yang kedua akan menjadi cerminan dari semangat bebasnya sendiri yang dia miliki sebelum pernikahannya. Dia adalah seorang gadis muda dan penyanyi di paduan suara. Kemampuan menyanyinya sangat diakui oleh banyak orang di kota.

Para wanita dapat memahami dengan baik situasi Mninie, dan dapat sepenuhnya dapat memahami prilaku ekstremnya. Mereka sekarang dapat sampai pada kesimpulan bahwa Minnie sedih dengan pernikahannya. Selama menjalani pernikahannya dengan Mr. Wright, Ia tidak memiliki anak, kurangnya kehidupan sosial, dan mengerikan terhadap burungnya.

Setelah ditelusuri lebih lanjut, melihat sikap  dan sifat yang ditunjukkan oleh Minnie, Mrs. Hale dan Mrs. Peters dapat menarik kesimpulan bahwa yang melakukan pembunuhan selama ini ialah Minnie, istri Mr. Wright sendiri.

Namun, mereka berdua lebih memilih diam. Oleh karena itu, para wanita memutuskan untuk tidak memberi tahu suami mereka tentang penemuan mata rantai yang hilang, dan berhasil menyembunyikan burung dan selimut. Bagi mereka, itu adalah keadilan yang ditegakkan dengan cara yang adil.

 

Short Story A Jury of Her Peers memiliki beberapa tahapan plot seperti sebagai berikut : 

1. Tahap Situation

When Martha Hale opened the storm-door and got a cut of the north wind, she ran back for her big woolen scarf. As she hurriedly wound that round her head her eye made a scandalized sweep of her kitchen. It was no ordinary thing that called her away--it was probably further from ordinary than anything that had ever happened in Dickson County. But what her eye took in was that her kitchen was in no shape for leaving: her bread all ready for mixing, half the flour sifted and half unsifted

Pada tahap ini  dijelaskan satu tokoh yang bernama Martha Hale. Ia berlari untuk mengambil syal wolnya ke rumahnya. Setting tempat dalam cerita tersebut juga disebutkan di rumah, tepatnya di daerah Dickson County. 

Adapun karakter tokoh dari Martha Hale ditulis pada paragraph setelahnya yaitu pada bagian

Her bread all ready for mixing, half the flour sifted and half unsifted. She hated to see things half done 

Pengenalan dan karakter tokoh setelah Martha Hale dilanjut ketika Ia bertemu dengan satu tokoh yang bernama Mrs. Peters.

She had met Mrs. Peters the year before at the county fair, and the thing she remembered about her was that she didn't seem like a sheriff's wife. She was small and thin and didn't have a strong voice.

Dalam cerita ini disebutkan tokoh-tokoh yang lain seperti  Mrs. Martha Hale, Sheriff Peters, Mrs. Sheriff, George Henderson, dan Lewis Hale. Mereka akan pergi ke daerah Dikcson County karena ditugaskan untuk membantu menyelidiki kasus pembunuhan yang bernama Jhon Wright.

Waktu kejadian dalam cerita A Jury of Her Peers dijelaskan pada bagian ini 

It looked very lonesome this cold March morning. It had always been a lonesome-looking place. It was down in a hollow, and the popular trees around it were lonesome-looking trees.

2. Tahap Generating Circumtances 

Bibit-bibit konflik yang mulai terlihat yaitu pada bagian ini.

"Now, Mr. Hale," he said in a sort of semi-official voice, "before we move things about, you tell Mr. Henderson just what it was you saw when you came here yesterday morning."

Sejumlah aksi penyelidikan kasus pembunuhan Mr. Wright mulai diselancarkan. Namun, sebelumnya Mr. Sheriff mengintruksikan kepada orang-orang yang ada di dalam untuk tidak terlebih dahulu memindahkan barang-barang. Ia meminta Mr. Hale untuk memberitahu kepada Mr. Young Henderson tentang sesuatu yang dilihatnya kemarin pagi di rumah Mr. Wright. 

The county attorney was looking around the kitchen.

"By the way," he said, "has anything been moved?" He turned to the sheriff. "Are things just as you left them yesterday?"

Peters looked from cupboard to sink; from that to a small worn rocker a little to one side of the kitchen table.

"It's just the same."

"Somebody should have been left here yesterday," said the county attorney.

3. Tahap Rising Action 

 Tahap ini terdapat pada bagian ketika para petugas memeriksa dapur dan barang-barang di sana untuk menemukan beberapa petunjuk tentang motif pembunuhan, mereka mencemooh tentang cara Minnie yang tidak pantas menjaga rumahnya. Mereka menemukan toples buah pecah yang terkena embun beku, peralatan makan yang tidak dicuci, area dapur yang tidak bersih, dll. Mereka kemudian meninggalkan dapur dalam pengawasan istri mereka, dan melanjutkan ke lantai atas.

Para wanita memeriksa semua yang ada di area itu dan bersimpati pada Minnie untuk toples yang pecah. Mereka berusaha menemukan penyebab yang mendasari tindakan pembunuhan Minnie. Akhirnya, mereka menemukan selimut yang belum selesai dan blok yang dijahit dengan gila-gilaan, gaun-gaun lusuh Minnie, dan burung kenari yang mati, yang tubuhnya disimpan dalam kotak yang dihias dengan indah.

1.    4.  Tahap Climax

 Tahap Climax terjadi pada saat burung Kenari Minnie mati tercekik. Seperti Minnie, burungnya juga dibungkam! Ini adalah alasan yang cukup yang menyalakan perasaan balas dendam pada Minnie. Dia sekarang memutuskan untuk mengakhiri agresi yang dia jalani selama bertahun-tahun bersama.

 “He died of the rope on his neck " 

 Baris ini menunjukkan metode pembunuhan yang digunakan untuk membunuh John Wright. Minnie ingin membuat suaminya mengalami malapetaka yang menimpanya serta burung malangnya. Dia mencekiknya, hanya untuk mencekiknya, seperti dia mencekiknya dan burung itu. Baginya itu adalah keadilan. 

2.    5.   Tahap Denoument

 Para wanita dapat memahami dengan baik situasi Minnie, dan dapat sepenuhnya memahami alasan perilaku ekstremnya. Mereka mengerti bahwa itu adalah neraka yang hidup baginya untuk hidup dengan seseorang yang tidak identik dengannya. Para wanita juga menemukan sangkar burung yang rusak. Mereka sekarang dapat sampai pada kesimpulan bahwa Minnie sedih dengan pernikahannya, kurangnya kehidupan sosial, keadaan tanpa anak, dan pembunuhan mengerikan terhadap burungnya.

 Jadi, dia membunuh penindas, yang begitu lama membuatnya tertindas. Oleh karena itu, para wanita dengan suara bulat memutuskan untuk tidak memberi tahu suami mereka tentang penemuan mata rantai yang hilang, dan berhasil menyembunyikan burung dan selimut. Bagi mereka, itu adalah keadilan yang ditegakkan dengan cara yang adil.

·         Analisis Konflik

1). Konflik Eksternal

- Konflik Sosial

2). Konflik Internal

 Dalam short story ini ditemukan konflik batin yang terjadi pada Minnie. Minnie semasa mudanya merupakan seorang gadis yang ceria, penuh kebebasan, dan suka menapakki jalannya sendiri. Ia asalnya merupakan penyanyi yang cukup terkenal pada masa mudanya. Tetapi, setelah menikah dengan Jhon Wright, Ia menjadi berubah drastic. Dirinya menjadi sosok yang tidak bebas, cenderung pendiam. Ditambah sudah beberapa tahun menikah, tetapi Minnie tidak dikaruniai seorang anak. Sebelumnya, namanya ialah Minnie, seperti Minnie Foster. Tetapi setelah menikah, Jhon Wright, yang menjadi suaminya sekarang memintanya untuk merubah nama Minnie, menjadi Mrs. Wright.

Karena dalam rumah tangganya Ia tidak menemukan kebahagiaan, yang Ia temukan hanyalah kesepian, lalu ia memutuskan untuk membeli burung kenari yang saat itu Ia anggap sebagai teman sehari-harinya.

   Dia bisa melihat dengan baik perubahan yang dia alami setelah pernikahannya. Dalam cerita, saya menemukan Nyonya Hale memanggil Minnie dengan nama gadisnya, untuk menekankan bahwa dia mirip dengan Minnie Foster, dan bukan Minnie Wright. Minnie Foster bebas seperti burung. Minnie Wright terpikat.

·         Analisis Tokoh

Sebelum masuk ke dalam analisis tokoh, berikut tokoh-tokoh yang terdapat dalam cerpen A Jury of Her Peers :

-          Minnie Wright – tersangka yang dianggap

-           John Wright – korban pembunuhan

-          Lewis Hale dan Martha Hale – tetangga Wright

-           Sheriff Henry Peters dan Mrs. Peters

-           George Henderson – pengacara

 

Minnie Foster dan Minnie Wright

Minnie Foster adalah gadis muda yang santai, bersemangat, ambisius, yang suka menyanyi. Dia suka bermimpi dan mengejar hal yang sama. Dia berpakaian bagus dan hidup dengan baik. Setelah menikah, dia harus membuat dirinya sendiri yang baru, yang tidak seperti dirinya. Dia harus mengadopsi kehidupan yang suaminya, dan bukan miliknya sama sekali. Dia harus berhenti bernyanyi. Dia harus menjadi ibu rumah tangga yang tidak sosial yang satu-satunya motif adalah untuk menghormati dan mematuhi suaminya.

John Wright

Dia merupakan pria yang taat hukum yang memiliki reputasi baik di masyarakat. Orang-orang menyeganinya. Tetapi, berbanding balik ketika dia memperlakukan istrinya, Minnie. Ia bersikap dingin, jahat, dan selalu menggeretak istrinya. Ia hanya membuat Minnie sengsara. Sungguh menyiksa hidup di bawah satu atap dengannya selama bertahun-tahun berumah tangga.

Mrs. Hale

Mrs. Hale merupakan istri Petani. Ia menjadi tokoh pembuka dalam cerita ini. Dia merupakan sosok yang rajin, teliti, dan tidak suka menunda pekerjaan. Dilihat dari dialog pertamanya dalam cerpen ketika hendak pergi ke rumah Jhon Wright, namun Ia melihat tepung adonanan rotinya di dapur yang belum selesai.

“Arthur Streeton, At Templestowe, 1889 She hated to see things half done”  

Sikap telaten dan penyabar juga terlihat ketika Ia menemukan selimut Minnie dengan keadaan pola jahitan yang tidak rapih. Lalu, Ia merapihkan jahitannya sendiri.

Mrs. Peters

Mrs. Peters merupakan istri Sheriff. Ia sangat menghormati suaminya. Karena Ia adalah istri dari seorang penegak hukum, maka Ia memiliki tanggung jawab untuk selalu menjaga martabat suaminya, dengan cara tetap mematuhi Sheriff.

·         Analisis Setting

-    - Latar tempat (Setting of Place)

       Latar tempat terdapat pada bagian-bagian berikut

     “When Martha Hale opened the storm-door and got a cut of the north wind, she ran back for her big woolen scarf. As she hurriedly wound that round her head her eye made a scandalized sweep of her kitchen. It was no ordinary thing that called her away--it was probably further from ordinary than anything that had ever happened in Dickson County

      Di atas disebutkan latar tempat kegiatan yang dilakukan oleh Mr. Hale, yaitu di dapur. Dan menyebutkan sesuatu yang pernah  terjadi di daerah Dickson County.

      Mrs. Hale scarcely finished her reply, for they had gone up a little hill and could see the Wright place now, and seeing it did not make her feel like talking. It had always been a lonesome-looking place. It was down in a hollow, and the poplar trees around it were lonesome-looking trees. The men were looking at it and talking about what had happened. The county attorney was bending to one side of the buggy, and kept looking steadily at the place as they drew up to it.

      Latar tempat tersebut dideskripsikan dengan jelas ketika mereka sedang berada dalam perjalanan menuju rumah Jhon Wright menggunakan kereta. Di situ digambarkan bukit kecil, pohon-pohon poplar. 

      Everyone in the kitchen looked at the rocker. It came into Mrs. Hale's mind that that rocker didn't look in the least like Minnie Foster--the Minnie Foster of twenty years before. It was a dingy red, with wooden rungs up the back, and the middle rung was gone, and the chair sagged to one side.

      Dalam penggalan cerpen tersebut dijelaskan bahwa orang-orang; Tidak lain tidak bukan ialah para pengacara, petani beserta masing-masing istrinya yang akan menyelidiki kasus pembunuhan Jhon Wright berada di dapur rumah Jhon Wright.

- Latar Waktu (Setting of Time)

Mrs. Hale scarcely finished her reply, for they had gone up a little hill and could see the Wright place now, and seeing it did not make her feel like talking. It looked very lonesome this cold March morning.

Latar waktu ditunjukkan pada penggalan cerpen ketika Mrs. Hale bersama yang lainnya    dalam perjalanan ke rumah Jhon Wright di pagi hari yang dingin, tepatnya di bulan Maret.

"before we move things about, you tell Mr. Henderson just what it was you saw when you came here yesterday morning."- Mr. Sheriff

Latar waktu terdapat pada, Sebelum melakukan penyelidikan, Mr. Sheriff meminta Mr. Henderson untuk menceritakan apa yang telah dilihatnya  kemarin pagi.

"I didn't see or hear anything. I knocked at the door. And still it was all quiet inside. I knew they must be up--it was past eight o'clock. So I knocked again, louder, and I thought I heard somebody say, 'Come in.' I wasn't sure--I'm not sure yet. But I opened the door--this door," jerking a hand toward the door by which the two women stood. "and there, in that rocker"--pointing to it--"sat Mrs. Wright."

Ketika dimintai keterangan terkait kejadian aneh yang terjadi di kemarin pagi, Ia menjelaskannya. Saat itu Ia mampir ke rumah Jhon Wright, Ia mencoba untuk mengetuk pintu, tetapi tidak ada yang menyahut. Padahal Ia yakin mereka sudah bangun karena sudah lewat jam 8 pagi.

She turned back to the county attorney and explained: "She worried about that when it turned so cold last night. She said the fire would go out and her jars might burst.

- Latar Sosial (Sosial Setting )

Para wanita memeriksa semua yang ada di area itu dan bersimpati pada Minnie untuk toples yang pecah. Mereka berusaha menemukan penyebab yang mendasari tindakan pembunuhan Minnie. Akhirnya, mereka menemukan selimut yang belum selesai dan blok yang dijahit dengan gila-gilaan, gaun-gaun lusuh Minnie, dan burung kenari yang mati, yang tubuhnya disimpan dalam kotak yang dihias dengan indah.

Latar sosial ini ditemukan ketika para wanita bersimpati pada Minni, istri Jhon Wright. Mereka menemukan beberapa barang milik Minnie yang terlihat aneh. Setelah ditelusuri lebih dalam, para wanita ini paham dengan apa yang telah dilakukan oleh Minnie. Ya, Minnie adalah pembunuh dari suaminya, Jhon Wright. Namun, Mereka memilih diam dan berusaha pura-pura tidak tahu siapa pembunuh Jhon Wright sebenarnya, karena para wanita ini memahami keadaan dan perasaan Minnie mengapa Ia sampai harus membunuh suaminya. Para wanita ini bersikeras untuk menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya terjadi dari para pengacara dan suami-suami mereka.

-   Latar Ruangan (Style of Setting)

  Everyone in the kitchen looked at the rocker. It came into Mrs. Hale's mind that that rocker didn't   look in the least like Minnie Foster--the Minnie Foster of twenty years before. It was a dingy red, with wooden rungs up the back, and the middle rung was gone, and the chair sagged to one side.

Latar ruangan terdapat pada Minnie yang sedang duduk di kursi goyang yang usianya sudah berpuluh-puluh tahun.

 

 

 

 

 

  

Thursday, May 28, 2020

Bus, Mini market, dan Seseorang di Seberang Jalan





Upnormal Coffee, 17 Okt. 2019








Kenangan jika tak dikenang, akan berlalu menjadi peristiwa biasa yang tak berarti. Menjelma menjadi album-album tanpa foto. Kosong tak berisi, berdebu, hingga akhirnya mudah untuk dilupakan. Itulah mengapa, dilahirkannya peringatan hari Pahlawan. Agar diingat, agar menolak untuk lupa.




Begitu pun dengan kamu. mengenangmu, sesungguhnya pahit. Sepahit kopi khas kafe di seberang jalan sana. 









****



02.00 PM.



Aku sedang ada mata kuliah Phonology di kampus. Mengupas tuntas sejarah ilmu Bahasa memang buat suntuk mata jika dibahas di siang hari begini. Aku yang biasanya sengaja duduk di bangku paling depan agar tetap focus, tetapi hari ini, rasanya mata dan telingaku sudah tidak bisa sinkron lagi. Tanganku, ku jadikan tumpuan di dagu agar tubuhku tidak goyah. Tiba-tiba, ponselku begetar mengenyahkan rasa kantuk ku. 





Satu pesan WhatsApp masuk.



"Dimana? Aku udah mau deket Sukabumi, nih." 



Read.



Aku membaca pesan dari seseorang yang sudah merencanakan janji untuk bertemu denganku.

Tanganku berusaha mengetik pesan secara diam-diam. Menyelundupkan ponselku di antara lengan dan ketiak sebelah kiri ku. 



"Masih ada matkul. Bentar lagi beres." Balasku dengan cepat. 



"Oke." Balasnya singkat.  



Di depanku, Pak Dosen sedang duduk menghadap layar presentasi. Jujur, aku kurang begitu suka dengan Dosen yang satu ini. Entah karena cara mengajarnya yang terkesan monoton, atau memang dasarnya aku gak pernah suka dengan yang namanya sejarah. sekalipun tahu bahwa sejarah itu penting. Tapi, ahh .. entahlah. Menurutku, belajar sejarah itu jenuh. ngantuk. Perlu metode baru yang cocok untuk typikal orang-orang malas sepertiku.



Aku terus membuka ponsel untuk sekedar melihat jam. Seharusnya matkul selesai dari tujuh menit yang lalu.



"Ci, ini dosen kapan beresnya, sih?" Aku berbisik ke teman yang ada di sebelahku. 



"Tau nih, korupsi waktu." Ucapnya memonyongkan bibir. 





Saat para mahasiswa di belakang berdecak memberikan kode, barulah mata kuliah diakhiri. Dengan pembacaan Hamdallah tentunya. 

Tanpa basa-basi, aku langsung keluar kelas terlebih dahulu. Seharusnya aku mengikuti kumpulan pemilihan Duta Kampus dengan kakak tingkat, namun, bagiku itu sama sekali not interesting. Tiada yang lebih penting dari pertemuan dua insan yang sedang jatuh cinta. Hahaha ..  



Aku sedikit berlari menuruni tangga, menerobos lorong gedung kampus, karena khawatir dia sampai lebih dulu di tempat yang sudah dijanjikan sedari awal. Yang menjadi masalah, ini pertama kalinya Ia menginjakkan kaki di tanah Sukabumi.



Sambil menunggu angkutan umum, aku memilih menunggu di Halte Dago. Melihat tukang asinan di depanku yang menggunakan gerobak, aku berniat untuk membeli. Aku meminta si Amang agar tidak perlu mengantongi buah-buahanku menggunakan plastik, karena kebetulan aku membawa kotak makanan kosong. Hanya mengeluarkan beberapa lembar uang rupiah, potongan buah Pepaya dan Semangka sudah memenuhi kotak makananku. Yeay! 





Setelah menerima uang kembalianku, aku langsung menaikki angkot. Perjalanan bertemu seseorang membutuhkan waktu sekitar 15 menit. Suasana angkot yang berdesakan. Aku duduk di kursi kecil di dekat pintu. terhimpit oleh dua manusia yang badannay cukup besar. Fiuh! Rasanya ingin melompat keluar agar terbebas dari kesesakan hidup ini.



"Udah dimana itu, Mas?" Aku melayangkan pesan WhatsApp padanya. 



"Gak tahu dimana, Mbak. Aku mendadak Amnesia๐Ÿ˜€" balasnya dengan menambahkan emoticon tertawa.



"Ih, serius deh. Aku balik lagi nih …" ucapku mendengus kesal. 



"Lho, aku kan emang bener bukan orang sini." ujarnya.



"Serah, ah!" kataku tak peduli.







****



Aku turun dari mobil, tepatnya di RS. Hermina Kota Sukabumi. Dengan segera aku memakai masker penutup wajah. Sengaja, biar tak mudah dikenal olehnya. 



Padatnya lalu lalang kendaraan menyebabkan pejalan kaki susah untuk menyebrang. Lama menunggu orang 'baik' yang mau membantuku untuk menyebrang, Tiba-tiba, aku melihat bus yang berhenti di seberang jalan. datang dari arah Utara. Bus yang bertuliskan jurusan Bandung-Sukabumi tertera di kaca depan mobil. 



Di seberang jalan, ada yang menarik perhatianku dari kejauhan. Seseorang yang turun dari tangga Bus. Mengenakan kemeja biru tua, celana hitam kulot panjang, dan ransel yang Ia bawa di lengan tangan kanannya. Ia belum ‘ngeh’ dengan keberadaanku. Ia malah masuk ke sebuah mini market yang ada di depan Rumah Sakit.



Aku menyebrangi jalan dengan hati-hati. Duduk di kursi yang telah tersedia di depan mini market. Berusaha mengatur pernafasan, merapihkan pakaian, tapi rasanya entah mengapa masih saja deg-degan gak karuan.



Saat aku melihatnya keluar membawa dua buah botol minuman dingin, Ia berjalan menunduk menatap ponselnya. Aku menduga sepertinya Ia mengirimkan pesan kepadaku. Dan yeah benar, ponselku bergetar tanda ada notifikasi pesan WhatsApp.



“ Udah nyampe. Aku tunggu ya depan mini market.” Ucapnya.



“Iya, tahu kok. Coba kepalanya angkat sedikit. Liat sesorang di depanmu.” Balasku dengan mengulum senyuman. Lebih tepatnya menahan ketawa sih.



Dia menyadarinya, lantas Ia menghampiriku. Aku  berdiri menghadapnya. Tangannya terasa menyentuh jilbab yang ku kenakan. Ia melepas tali masker yang kukenakan.

Aku meraih tangannya di sela-sela Ia membuka maskerku, mengusap wajahku. Aku menciummi aroma telapak tangannya yang khas. Kini, aku kembali bertemu seseorang yang terakhir kali bertemu 6 bulan lalu di Kota Kembang.





Kita saling menatap tanpa kata. Rindu. Mungkin hanya itu. Hanya kita berdua yang memahami.









Selamat mengenang.







18 Ramadhan 1441 H.
































































Friday, September 27, 2019

Melihat Sudut Pandang Yang Berbeda


Mereka hidup di tengah kota
Bernyanyi-nyanyi tanpa memikirkan habisnya suara
Berkeliling memainkan gitar,
atau hanya dengan tepukan tangan biasa

Demi koin yang bernilai,
Demi mengisi perut yang lemas-terkulai,
Demi perjuangan merubah takdir yang bisa dirubah dengan menggapai

Lusuh, bau, kumal, wajari saja!
Tak ada sosok peran orangtua di dalamnya
Kehidupannya harus diterima dengan mata yang terbuka,
Dengan lapang dada,
Hati yang ikhlas,
Tanpa  merasa terbebani karena terpaksa.








09.10 PM.

Malam semakin larut. Jalanan di kota Sukabumi terlihat lengang. Lampu-lampu yang berjajar di sekitar Masjid Agung sudah mulai dimatikan oleh petugas yang berjaga. Saat itu hanya tersisa anak-anak remaja berpakaian metal, yang sedang duduk dan bernyanyi di Taman Kota, dengan diiringi gitar sebagai pemanis musiknya. Sebagian orang yang mendengar mungkin akan langsung menutup telinga . Atau ada yang mendengus kesal lantas mengumpat dalam hatinya karena merasa terusik. Namun, hanya beberapa persen orang saja yang beranggapan positif atas eksitensi mereka. Termasuk saya. Saya berasumsi, tidak masalah walaupun suara mereka terdengar fals, sumbang, dan untuk dikatakan pas-pasan saja itu belum sampai.  Tetapi, mereka mampu berkreasi walau tak sehebat seorang Musisi. Itulah dunianya. Hidup di tengah-tengah kota, mengamen di setiap persimpangan lalu lintas, dikejar petugas Satpol PP, merasakan perihnya perut kosong, tidur di atas kursi panjang, bertengkar dengan teman seprofesi karena berebut wilayah kekuasaan, serta masih banyak persoalan sulit lainnya yang harus mereka jalani. Tidak ada yang menginginkan kehidupan 'pedih' seperti itu. Karena setiap hal yang terjadi pada dunia ini pasti terselubung sebab dan akibatnya. Karena itu hukum kausalitas. Tidak serba kebetulan. Entah itu sebab yg berasal dari dimensi manusia, atau memang Allah yang sudah menakdirkannya dalam susunan skenario-Nya. 




Sekian.

Love Madhavi,


Kamar lusuh, 2019

Thursday, September 26, 2019

Review Novel "Jemput Aku Jilid I"

Nama : Lisnawati
Ig  : @lisnamadhavi
Ig penulis :@Megamf
Judul Buku : Jemput Aku Jilid 1
Penulis: Mega Milenia Vebriyanti
Penerbit: Mandiri Jaya Publishing
ISBN: 978-602-079-970-4
Tebal Buku: 375 Hal



Buku yang berjudul "Jemput Aku" ini merupakan buku yg isinya bernuansa Romance-Islami. Ketertarikan untuk membaca buku ini muncul dari ambisi hati yang paling relung di dasar sana, karena sebab-sebab tertentu. Salah satu di antaranya , penulis dari Novel yang dikemas dengan cover cantik ini adalah kakak tingkat saya waktu sekolah Madrasah Aliyah dulu. So, siapa sih yang gak mau kepo kaya Dora kalo ternyata orang yang pernah kita kenal, atau bahkan pernah dekat walau sedetik bisa nerbitin buku? Pastinya super kepo dong sama apa yang ia tulis. Yuk, langsung aja kita rangkum.


"Cintailah orang yang kamu cintai dengan cinta pertengahan, karena bisa jadi suatu saat nanti dia akan menjadi musuhmu. Dan bencilah musuhmu dengan benci pertengahan, karena bisa jadi musuhmu akan menjadi kekasihmu." -H.R Tirmidzi

Sebut saja Bintang Azura. Wanita manis yang saat ini sedang duduk di semester lima di salah satu Universitas ternama di Bandung. Ia hidup dalam keluarga yang sangat hangat dan harmonis. Jika ada dalam realita, mungkin banyak daftar list orang yang memendam rasa iri pada keluarga Bintang. Ia mempunyai Umi dan Abi yang sangat menyayanginya. Dan ada dua orang lelaki selain Abi yang tinggal satu atap dengannya, yang  bukan hanya bernotaben baik, tetapi juga pelindung siaga yang herois. Sebutlah mereka kakaknya.

Di tengah kesibukannya menjalani kuliah, Bintang selalu menyempatkan dirinya untuk mengikuti kajian bulanan di salah satu masjid besar yang ada di  Kota Bandung. Dia tidak pergi sendiri. Tetapi dengan sahabatnya, Lala. Kemana pun langkah Bintang pergi, selalu ada  Lala di belakangnya. 
 

"Saya hanya ingin berbagi ilmu dengan orang-orang yang serius, bukan orang yang hanya iseng dan ikut-ikutan saja. Kalo kalian tidak serius, lebih baik keluar!" 

Ngilu. Kalimat itu masih terngiang betul di telinga Bintang saat mengikuti kajian bersama Lala. Ucapan itu keluar dari mulut seorang penceramah muda karna ulah sahabat Bintang, yg terus saja mengajaknya mengobrol. Sial memang.

Esoknya Bintang ada jadwal kuliah pagi. Entah ada badai dari mana, dosen mata kuliahnya tidak bisa hadir untuk mengajar selama 6 bulan, sehingga digantikan oleh anak buahnya. Dan, tahu siapa yang jadi penggantinya? Manusia yang kemarin sudah menjadi daftar list urutan pertama yang tidak ingin ia temui selama hidupnya. Ya, Aldin Ibrahim Haikal.

Karena ..

Orang yang tidak ingin kamu temui, lebih berpotensi memiliki kesempatan  bertemu denganmu lebih sering dari biasanya. Kenapa? Karena hidup, tak selalu tentang apa yang kamu mau.

Setiap hari ada saja yang membuat Bintang kesal. Dosen yang dicapnya galak itu berhasil menciptakan rasa ketika bertemu. Menyebalkan, namun mendebarkan. Hingga suatu hari, pada waktu yang tak Bintang duga, ada seseorang yang datang tanpa aba-aba. Seseorang yg datang dari masa lalunya setelah 6 tahun silam meninggalkannya pergi.

Siapakah dia?? Ya, dia Zidan. Sahabat, sekaligus orang yang Bintang selama ini tunggu-tunggu.  Niatnya ingin melamar Bintang terurungkan karena sudah ada orang yang satu langkah lebih maju mendahuluinya. 

Di sisi lain pun sama. Ada seseorang dari masalalu Aldin yg tiba-tiba datang, di tengah harmonisnya pernikahan. Perempuan itu mengakui kalo dirinya masih mencintai Aldin, di saat dirinya sedang dilanda sakit yang bukan main. Bahkan dia tak segan akan merusak rumah tangga Aldin jika dia tidak bisa mendapatkanya. 

 Bintang sedikit demi sedikit merasakan pahit yg luar biasa setelah mengetahui kejadian itu. Dia memohon kepada Allah agar diberi petunjuk atas permasalahan dalam pernikahannya. 

Sampai suatu hari, bintang mengeluarkan ucapan yang tak pernah disangka-sangka selama ini.

"Bintang siap dimadu, A."

Yeaaayy Jemput Aku Jilid I selesaaai .. bagaimana kelanjutan  ceritanya?? Apakah Aldin menyetujui, atau malah memarahi karna tak terima dengan ucapan Bintang?
InsyaaAllah lanjut review setelah selesai baca buku jilid 2 yaaa


See U next time.


Love, Madhavi







 




Wednesday, September 11, 2019

Untuk Menjadi Baik, Tidak Harus Menunggu Dewasa

Tak perlu merencanakan untuk berbuat baik di kemudian hari. Sebab mulanya kebaikan bisa diperoleh dari hal-hal yang kecil. Tidak untuk ditunggu, apalagi menunggu. Sekarang. Sebelum nanti malas, sebelum tiba hati mengeras. --Lisnawati


Salsa's Stories๐Ÿƒ

"Panggil aja Salsa", katanya. Dia merupakan anak kecil yang aku temui di Mesjid At-Tin, TMII, Jakarta Timur. Kebetulan saat selesai mengambil wudhu untuk melaksanakan shalat Maghrib, aku tertangkap basah olehnya,  karena dia melihat wajahku yang sedang kebingungan  seperti mencari sesuatu mungkin.

Dengan langkah yang terbirit-birit, dia  berjalan menghampiriku.

" Maaf Mbak, lagi nyari mukena, ya?"  Tanyanya dengan nada sangat rendah, namun masih dapat ku dengar

"Eh, anuu. Ii-yya, Dek." Jawabku dengan ekspresi yang sedikit gugup. Duh, kenapa bisa gugup begini sih, cuma jawab pertanyaan ringan gitu aja.

" Mau gak minjem?" Dia mengulurkan mukena yang ada di tangannya padaku.

"Emang ini punya siapa?" Tanyaku sedikit ragu melihat dirinya memakai mukena, sedangkan di tangannya ada dua mukena lain yang dia pegang. 

"Punya aku." Jawabnya dengan senyum yang sangat menggemaskan.

Benarkah punyanya? Apakah adik kecil ini sengaja membawa beberapa mukena untuk dipinjamkan?
Ahh, sungguh mulia jika memang iya. 

Melihat waktu Maghrib tinggal tersisa beberapa menit lagi,  langsung saja aku meraih mukena dari tangan mungilnya. 
Maha Besar Allah,  saat memulai rakaat pertama takbiratul ihram, rasanya hati bergetar, dan lebih khusyuk'. Suasana di mesjid ini begitu nyaman. Seolah ada magnet tersendiri yang menarik agar jama'ah tidak berpaling kepada selain-Nya.

Selesai berdoa, aku menoleh ke belakang . Ternyata, Anak baik itu tidak sendiri. Dia bersama lima orang  teman sebayanya yang sedang bercanda-ria di teras mesjid. Aku amati sekilas dari dalam, sepertinya itu kawannya. 

Jam menunjukan pukul 18.45 PM. Resepsi dimulai ba'da Isya'. Masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi untuk menunggu adzan. Kebetulan rencanannya akan sekalian melaksanakan shalat Isya' di sini. 
Entah mengapa,  rasanya seperti ada gelagat hati yang mendorongku untuk mengetahui lebih banyak lagi tentang mereka. 

Dengan senyum yang merekah, dari kejauhan mereka menatapku. Melambaikan tangan memberi kontak agar aku segera kesana. Aku bangkit dari karpet hijau yang menjadi alas mayoritas ummat muslim untuk beribadah. 

Namun, baru lima langkah bergegas menghampirinya, tiba-tiba saja senyum mereka kecut. Raut wajahnya lebih terlihat kaget, bahkan berlari melesat secepat kilat.

Astagfirullaah, ada apa ? Apa wajahku sehorror ini? 

Aku mematung. Menepuk-nepuk kedua pipiku. Memastikan kalo wajahku baik-baik saja.


"Dasar bocah ya! "

"Hey! Mau kemanaa?! Awas ya!

Tubuhku terhentak saat melihat seorang yang mengenakan seragam Security sedang marah-marah, tetapi tidak tahu siapa yang dimarahinya itu. 


Bentar-bentar. Apa iya? Tapi, kenapa? 

Pikiranku tertuju pada kejadian mereka barusan. 
Aku langsung bergegas mencari mereka di area mesjid yang cukup luas ini. Dan, akhirnya tidak sulit.



***
Setelah tahu ceritanya dari Salsa, ternyata, dia dan teman-temannya adalah anak-anak yg suka mengaji di mesjid At-Tin dari Maghrib hingga Isya. Mereka sengaja dari rumah membawa beberapa mukena bersih untuk dipinjamkan ke orang  lain yang akan shalat di sana. Alasannya karna mukena yang disediakan di mesjid sana hanya sedikit. Kasihan katanya melihat orang-orang yang mau shalat, harus mengantri terlebih dahulu. Khususnya para pendatang dari luar DKI. Namun,  kebiasaannya membawa mukena itu ternyata tidak semulus jalan yang mereka kira. Setiap meminjamkan mukena kepada orang lain, Satpam yang berjaga di sana selalu marah jika melihatnya. Katanya, mukena di mesjid juga banyak. Padahal yg tersedia tidak mencukupi kapasitas yang ada. Dapat dihitung dengan jari mungkin. Yaa Allah. 


Jika dipikir secara nurani, anak-anak di sana lebih tahu dan respect, mana yg lebih utama  harus dilakukan. Membiarkan orang lain mengantri, lalu tertinggal banyak waktu shalat, sehingga masbuk,  atau menolong orang lain dengan sedikit mengorbankan mukenannya? Bahkan mungkin ada yg bisa berjama'ah, karena mukena yg mereka pinjamkan. 

Pahala mengalir deras pada kalian, Dek.


Love, Madhavi


Jakarta, [25/11]








Tuesday, September 10, 2019

"Manusia diciptakan untuk berpikir, bergerak, berdimensi, dan berkreasi dengan ribuan ide yang tak akan ada habisnya. Allah anugrahi itu semua dalam satu wadah. Akal namanya. Maka, syukuri dan gunakanlah sebaik-baiknya." --Lisnawati 

Pengamen yang naik ke dalam Bis jurusan [Bogor-Pelabuhan Ratu] ini memiliki ciri khas yang berbeda dengan pengamen yang biasa aku temui di Bis sebelumnya. Bukan dari suaranya saat ia bernyanyi, bukan. Tetapi cara ia meminta 'apresiasi' dari penumpang yang cukup menarik perhatian.


Aku perhatikan, sebelum ia bernyanyi, Pengamen itu mengeluarkan beberapa amplop dari saku celana jeansnya. Amplopnya kecil sekali. Kalau diukur secara perkiraan sama dengan foto yang berukuran 2R. Ia berjalan ke belakang, lalu membagikan amplop itu ke setiap penumpang yang duduk di kursi kanan-kiri Bis. Saat  menyanyikan lagu Secawan Madu, suaranya memang terdengar pas-pasan, tetapi masih bisa dinikmati karna improvisasi yang ia buat. Lima menit lagu itu selesai, pengamen itu mengambil kembali amplop  yang ada di tangan para penumpang. Entah semua penumpang mengisi amplopnya atau tidak. Yang jelas, ada magnet tersendiri yang membuatku ingin mengisinya. 

Sekilas bisa ditarik kesimpiulan, cara ini lebih efektif daripada meyodorkan menggunakan sejenis kantong permen, atau yg lainya. Biasanya kita ragu-ragu, enggan, atau takut saat ingin mengisi kantongnya si Pengamen. Entah itu alibi "Gak ada receh" atau takut dengan si Pengamen yang terlihat brutal. Tetapi dengan cara ini, kita bebas mau mengisi berapa pun nominalnya. Ini juga seolah-olah menjadi gift bagi si Pengamen. Amplop yg sudah dikumpulkan pasti menjadi rasa penasaran yg menggebu karna ingin tahu berapa isinya. Ia akan sangat bahagia tatkala membuka amplop ternyata terisi, bahkan nominalnya besar tak terduga. Mungkin tidak sedikit orang yang ingin bershadaqoh melalui Pengamen itu, namun tak ingin diketahui banyak orang, Sehingga menjadi kejutan tersendiri bagi si Pengamen. Dan jika amplop yang dibukanya ternyata kosong, ini tidak akan terlalu membuatnya  kecewa. Sebab lebih kecewa dan sakit hati ketika meminta 'apresiasi' di depan umum, namun tak ada yg menanggapi dan peduli untuk memberi. Walaupun mereka sudah menganggap itu hal yang biasa.


Belum pernah merasakan, namun sedikit-banyaknya bisa membaca keadaan. 

Hayoo, pengamen saja dari hal yang kecil bisa kreatif, apa kabar dengan anda?



Nb: Pengamen ditulis di depannya menggunakan huruf kapital ya, karna menurutku Pengamen juga merupakan sebuah profesi. Mohon maaf jika tulisan ini membuat hati para pembaca tidak enak, atau tersinggung. ๐Ÿ™




Analysis Short Story " A Jury of Her Peers by Susan Glaspell"-Lisnawati

  Analisys of A Jury of Her Peers   Oleh : Lisnawati  ·              A jury of Her Peers merupakan sebuah cerita pendek terbitan Ameri...